

Pada 15 November 2025, Komunitas Cermin menggelar acara Cermin Annual Exhibition (CAE) berlokasi di Medan Nan Balinduang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Acara yang terbuka untuk umum ini menampilkan pertunjukan berbasis seni teater sebagai bagian dari kegiatan Komunitas Cermin, yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa yang mewadahi minat, bakat, dan pengetahuan mahasiswa dalam bidang budaya serta bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.
Selama ini, komunitas cermin dikenal aktif memperkuat literasi budaya sekaligus menyediakan ruang berekspresi bagi mahasiswa yang tertarik pada teater dan kepenulisan. Sebagai bagian dari program kerja tahunan, Komunitas Cermin menyelenggarakan Cermin Annual Exhibition (CAE), sebuah acara yang dirancang untuk memperlihatkan perkembangan kreativitas anggota serta memperkuat peran komunitas sebagai wadah pembelajaran seni. Rangkaian kegiatan CAE melibatkan proses pemilihan panitia, penyusunan konsep, hingga kolaborasi dengan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Andalas.
Pada tahun 2025, CAE mengangkat tema “Life on Stage” dengan judul pementasan “A Play Called Life.” Tema ini menekankan keterhubungan antara kehidupan manusia dan seni peran, dengan menampilkan dua sisi kontras yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan tersebut, Komunitas Cermin ingin memperlihatkan bahwa teater bukan hanya bentuk hiburan, melainkan ruang refleksi terhadap dinamika emosi, peran, dan pengalaman manusia.
Dua penampilan utama teater dalam kegiatan ini berjudul “CURSE” dan “Can’t You See I’m Burning?”. Pertunjukan “CURSE” mengusung genre komedi dan menampilkan tokoh Poppy The Witch (diperankan oleh Shamira) bersama Minionnya, Numb (diperankan oleh Ade). Dalam cerita, Poppy The Witch mengutuk sebuah desa demi memenuhi rasa bosannya atas saran dari Minionnya sehingga para warganya mengalami perubahan perilaku: Ruby Sang Mayor (diperankan oleh Husna) tidak bisa berhenti marah, Sal Sang Kesatria (diperakan oleh Lusi) terus tertawa, Ana Si Pembuat Permen (diperankan oleh Lail) selalu menangis, dan Nora Si Petani (diperankan oleh Rossa) menjadi sangat penakut, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Foto penampilan pertama “CURSE“
Dalam adegan akhir, tokoh Sutradara muncul dan menghentikan alur cerita yang dianggap keluar dari naskah. Melalui dialognya, “Great! No one say that being an actor or actress is easy, so fuck it and face it!”, pertunjukan ini menegaskan bahwa proses menjadi seorang pemain teater penuh tantangan.
Pertunjukan kedua, “Can’t You See I’m Burning?”, mengusung tema tragedi dan menampilkan konflik dalam sebuah keluarga. Cerita berfokus pada pasangan Michael (diperankan oleh Fazil) yang memiliki penyakit post-traumatic stress disorder (PTSD) dan Schizophrenia, dan Irish (diperankan oleh Sarah), serta anak mereka, Lyra (diperankan oleh Azizah). Dalam alur pementasan, keluarga Michael mengira kalau Michael telah meninggal karena ada perwakilan yang mengantarkan kalung Michael ke rumah, sedangkan Michael sebenarnya ditangkap, ditahan, dan disiksa selama satu tahun lebih di penjara.
Selama ketidakhadiran Michael, kehidupan Irish dan Lyra ditopang oleh Desmond, adik Michael (diperankan oleh Randy). Konflik muncul ketika Michael kembali dalam keadaan hidup dan melihat keluarganya dirawat oleh Desmond. Situasi memanas, dipengaruhi kondisi psikologis yang tidak stabil serta rumor yang beredar di medan perang mengenai istri yang ditinggal lama, Michael mencurigai adanya perselingkuhan. Tekanan dan kesalahpahaman tersebut mendorong tokoh Michael pada keputusan tragis di akhir cerita.

Foto penampilan kedua Can’t You See I’m Burning?
Konsep pementasan tahun ini berfokus pada “Tragedy vs Comedy”, dua elemen utama dalam seni teater yang merepresentasikan paradoks kehidupan. Tragedi diangkat sebagai simbol pergulatan batin, konflik, dan ketegangan emosional, sementara komedi disajikan sebagai cerminan ironi dan kelucuan dalam keseharian. Kedua bentuk tersebut digabungkan secara bergantian sehingga menciptakan pertunjukan yang dinamis, reflektif, dan mudah dihayati oleh penonton.
Selain pertunjukan, acara ini juga diselingi oleh penampilan bakat dari para anggotanya dan acara ini juga menampilkan keunikan lain berupa penggunaan make-up character oleh seluruh panitia. Konsep ini dipilih untuk memperkuat atmosfer teatrikal sekaligus menjadi identitas visual acara CAE tahun ini.
Melalui konsep dan tema tersebut, selain menyuguhkan hiburan, CAE 2025 juga berkontribusi dalam memberikan pengalaman edukatif dan artistik bagi seluruh peserta. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anggota Komunitas Cermin untuk mengasah kemampuan seni, kerja tim, dan manajemen acara, sekaligus memperkuat solidaritas internal maupun hubungan dengan komunitas seni di lingkungan kampus.
Selain itu, penyelenggaraan CAE diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat kampus terhadap seni teater, termasuk bagi anggota baru yang ingin memahami bentuk dasar pementasan. Acara ini sekaligus menegaskan peran Komunitas Cermin sebagai UKM seni dan budaya yang aktif, inovatif, dan konsisten dalam melahirkan karya kreatif.
BIODATA PENULIS

Nikicha Myomi Chairanti, lahir di Kota Padang pada penghujung tahun 2005. Penulis merupakan mahasiswa program studi Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Penulis hobi menulis artikel, membaca buku fiksi, dan menonton film fantasy action. Buku series dan film favorit penulis adalah Harry Potter dan Stranger Things. Saat ini penulis sedang bergiat di UMKF Komunitas Cermin Universitas Andalas dan UMKF Labor Penulisan Kreatif (LPK) Universitas Andalas. Lebih lanjut dapat diikuti instagram penulis @khaomyaa, email nikichamyomi05@gmail.com, dan nomor handphone 082383444517





Leave a Reply