
Sumber media: Jurnalistik LPK
Sidang Rapat Senat Terbuka dalam Rangka Dies Natalis Unand ke-44 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
LPK – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) merayakan puncak peringatan Dies Natalis ke-44 pada Jumat, 6 Maret 2026, melalui Rapat Senat Terbuka yang berlangsung di Ruang Seminar FIB Unand. Mengusung tema filosofis Bapucuak ka Ateh, Baurek ka Bawah: Menuju Keunggulan Intelektual, Mengakar pada Kearifan Lokal, acara ini menjadi momentum penegasan visi fakultas di kancah global.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan Rapat Senat oleh Ketua Senat FIB Unand, Prof. Dr. Nadra, M.S. dan dilanjutkan dengan penampilan Tari Pasambahan yang dibawakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) FIB Unand untuk menyambut para tamu undangan.
Perayaan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dan mitra penting, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, Kepala Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, serta Kepala Museum Adityawarman. Hadir pula Ibu Suci Shawmy F., M.Psi. dan Bapak Fajar DN Nugraha, M.Sn. dari komunitas Surau Kreatif. Kehadiran tokoh komunitas tersebut mempertegas posisi FIB sebagai mitra strategis penggiat budaya di Sumatera Barat.
Selain itu, suasana acara semakin ramai dengan kehadiran para mahasiswa magang dari Universitas Metamedia yang bergabung bersama mahasiswa FIB Unand dan seluruh sivitas akademika lainnya.
Ada dua agenda utama dalam puncak peringatan Dies Natalis kali ini, yakni penyampaian pidato oleh Dekan FIB Unand dan pemaparan Orasi Ilmiah. Dalam pidato laporannya, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., membedah makna mendalam di balik tema Dies Natalis tahun ini. Beliau menjelaskan bahwa Bapucuak ka Ateh merupakan simbol ambisi intelektual fakultas.
Beliau juga menjelaskan bahwa Bapucuak ka Ateh merupakan simbol ambisi intelektual fakultas.
“FIB harus hadir sebagai pusat pengembangan ilmu budaya yang mampu berkontribusi tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan global. Kita harus terus mengejar keunggulan intelektual,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa kemajuan tersebut harus beriringan dengan prinsip Baurek ka Bawah. “Sejauh apa pun melangkah ke panggung dunia, kita tidak boleh tercerabut dari akar budaya sendiri. Kekuatan kita justru terletak pada kemampuan menjaga identitas di tengah arus globalisasi,” tegasnya. Untuk mewujudkan visi tersebut, Dekan memaparkan langkah strategis seperti penguatan riset dan publikasi, perluasan kerja sama internasional, serta pengembangan tata kelola akademik yang transparan dan berintegritas.
Puncak acara ditandai dengan penyampaian Orasi Ilmiah oleh Wulan Fauzanna, S.S., M.EIL., Ph.D. yang berjudul “Bahasa Inggris sebagai Instrumen Penguatan Profesionalisme di ASEAN dalam Perspektif Genre”.
Dalam orasinya, Ibu Wulan memaparkan peran strategis bahasa Inggris dalam profesi akuntansi di tingkat regional ASEAN. Berdasarkan analisis terhadap presentasi konferensi ASEAN Federation of Accountants (AFA), ia menjelaskan bahwa bahasa Inggris berfungsi sebagai instrumen legitimasi, akuntabilitas, dan diplomasi profesional.
“Bahasa Inggris dalam konteks profesional berfungsi sebagai arena strategis untuk menegosiasikan otoritas organisasi dan membangun kredibilitas kolektif di tingkat regional,” jelasnya. Ia menunjukkan bagaimana para profesional di ASEAN menggunakan struktur komunikasi yang efektif guna menjembatani perbedaan latar belakang bahasa demi mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Peringatan Dies Natalis ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi seluruh keluarga besar FIB, mulai dari Guru Besar, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dan alumni serta membawa harapan agar di usia ke-44 ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas berkomitmen untuk terus menjalankan langkah strategis, agar terus tumbuh menjadi institusi yang berintegritas dan tetap menjadi penjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa.




Leave a Reply