
Sumber media: Mekar LPK
LPK – Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas kembali menyelenggarakan kegiatan pengembangan literasi. Sebagai UKMF yang bergerak di bidang kepenulisan , kegiatan pengembangan literasi ini diadakan melalui kelas menulis bertajuk Menggali dan Mengembangkan Ide Kreatif dalam Penulisan Cerpen. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026 di ruang seminar lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas dan diikuti oleh pengurus LPK serta mahasiswa dari berbagai program studi dan peguruan tinggi lainnya.
Kegiatan ini menghadirkan sastrawan Minangkabau Yusrizal KW sebagai narasumber utama. Beliau juga dikenal sebagai pimpinan media literasi cagak.id. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta yang ingin memperdalam pemahaman tentang proses kreatif dalam penulisan cerpen.
Yusrizal KW menekankan bahwa proses kreatif dalam menulis berangkat dari kemauan yang kuat. Ia menyebutkan bahwa kemauan tersebut merupakan bentuk keberanian untuk mencoba, sekaligus kesiapan untuk terus melatih diri. Menurutnya, penulis tidak perlu terlalu khawatir terhadap hasil di tahap awal. “Yang terpenting adalah keberanian, berani memulai dan berani menempa diri untuk terus berlatih menulis ” ungkapnya.
“Manusia itu unik, lucu, misterius, dan menyebalkan, sehingga cerita pendek memang harus dituliskan,” ujar Yusrizal KW dalam pemaparannya. Melalui pernyataan tersebut, ia menekankan bahwa kompleksitas manusia selalu menyimpan kisah yang layak diangkat menjadi sebuah cerita. Dalam sesi tersebut, Yusrizal juga membagikan berbagai kiat menulis cerpen kepada peserta, mulai dari cara membangun deskripsi latar yang hidup, merancang alur atau plot yang menarik, hingga menciptakan tokoh yang kuat dan berkarakter. Selain itu, ia menjelaskan pentingnya konflik, sudut pandang, serta pemilihan diksi agar cerita terasa lebih nyata dan mampu memikat pembaca.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam menulis adalah rendahnya minat membaca. Padahal, membaca merupakan fondasi utama bagi seorang penulis. Dengan membaca karya sastra, seseorang dapat memperoleh pengalaman batin serta memperkaya wawasan kreatif. Ia bahkan menegaskan bahwa aktivitas menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca. “Menulis pada dasarnya adalah mengutip apa yang kita baca, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang baru,” jelasnya.Selain membahas aspek teknis dan proses kreatif, Yusrizal juga menyoroti peran generasi muda di era digital. Ia berharap mahasiswa mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial secara bijak dengan menghasilkan konten yang positif dan bernilai. Menurutnya, arus informasi yang cepat harus diimbangi dengan aktivitas yang memperkaya pengetahuan, seperti membaca buku, opini, maupun mendengarkan podcast edukatif. Pelaksanaan kelas menulis ini tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan semangat berkarya di kalangan mahasiswa. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti diskusi dan mengajukan pertanyaan selama kegiatan berlangsung.Melalui kegiatan ini, LPK Unand berharap dapat terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri di bidang kepenulisan, khususnya dalam penulisan cerpen. Kelas menulis ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya karya-karya kreatif yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman.




Leave a Reply