
(Ilustrasi oleh Gemini AI)
Dinding papan rumah gadang yang telah menghitam dimakan usia seakan ikut menahan napas. Bau tanah basah yang menyelinap dari kolong rumah tak mampu mengusir aroma pengkhianatan yang perlahan menyelimuti hati Baheram. Di atas ambang pintu, gadis itu duduk mematung, pandangannya lurus ke sawah luas yang terhampar. Namun, pikirannya tak di sana. Pikirannya melayang pada sebentuk keris pusaka berhulu emas peninggalan ayahnya yang kini entah di mana. Tasaki, Ayah Baheram hanya memberikan keris tersebut sebagai peninggalan. Harapannya agar nanti bila Baheram ingin melanjutkan sekolah atau ketika hendak menikah nantinya. Maibo, Ibu Baheram datang membuyarkan lamunan itu dan mengajak Baheram untuk ke Pincuran di tepi sawah di depan rumah.
Langkah kaki Maibo dan Baheram terhenti di pincuran (pancuran), tepat di tepi pematang sawah yang menghampar di depan rumah. Aroma lumpur dan kesegaran air mengiringi gerakan tangan mereka memukul-mukul pakaian kotor. Tiba-tiba, Maibo menatap Baheram yang sedang merendam kain putih dengan tatapan lembut namun sendu.
“Apa yang kau lihat di depanmu ini,” ia menunjuk ke bentangan sawah yang kini hanya setengahnya milik mereka.
“Dulu adalah tanda kekayaan kita yang sejati. Jauh sebelum Ayahmu pergi dan sebelum Mamakmu Solim menjadi seperti sekarang, keluarga kita ini adalah orang yang sangat terpandang.” Maibo berhenti sejenak, wajahnya menerawang jauh ke masa lalu.
“Kita punya tanah yang membentang dari sini sampai ke sungai di hulu. Kerbau kita tak terhitung jumlahnya, menjadi lambang kekayaan yang membuat semua orang segan. Kita bukanlah keluarga miskin, Baheram. Semua yang kita miliki sekarang, yang serba kekurangan, adalah karena harta itu telah dicabut, diambil sedikit demi sedikit, sampai kita lupa bagaimana rasanya hidup berkecukupan.” Kata Maibo, yang diceritakan di tengah kesibukan mencuci pakaian, menanamkan kesadaran di benak Baheram bahwa kemiskinan mereka saat ini bukanlah nasib, melainkan hasil dari pengkhianatan yang tersembunyi.
Setelah semua pakaian menjadi bersih dan siap untuk dijemur, Ibu dan Anak itu segera kembali ke rumah. Ternyata Solim sudah duduk di kursi rotan yang ada di dapur sambil meraut bambu. Maibo menghampiri kakak laki-lakinya itu dan membuatkan kopi.
Solim, sang mamak tertua di rumah itu, tahu benar bahwa keris itu takkan pernah kembali. Ia telah menggadaikannya dan kemudian menjualnya secara diam-diam sebab desakan utang dan gemerlap kota yang sempat membius matanya, menukar kehormatan keluarga dengan segepok uang fana. Malam itu, di bawah keremangan lampu minyak, sebuah rahasia busuk telah siap merobek selimut keharmonisan rumah gadang itu, menyisakan luka yang lebih dalam dari goresan mata pisau. Sesuai dengan namanya, ia adalah orang yang zolim terhadap saudara dan kemenakannya.
Di seberang ambang pintu, bentangan sawah yang begitu luas sumber penghidupan turun-temurun keluarga mereka, permadani hijau yang selalu menenangkan hati Baheram kini bukan lagi milik mereka seutuhnya. Kehancuran itu terasa lebih perih karena Baheram tahu, sawah itu telah digadaikan Solim untuk biaya kuliah anaknya, sepupu Baheram, di kota. Ironisnya, pengorbanan itu terasa menampar wajah Baheram. Ia yang cerdas dan berpotensi justru dipaksa berhenti sekolah selepas tamat SMP, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana harta benda mereka dicabut satu per satu demi masa depan orang lain. Rasa sakit hati itu kini bukan lagi sekadar getaran, melainkan badai yang siap merobohkan ketenangan hati Baheram, antara menuntut keadilan atau menelan kepedihan sebagai takdir seorang anak perempuan di bawah atap rumah gadang yang tonggak-tonggaknya mulai keropos dimakan rayap.
Di balik penggadaian dan penjualan harta benda oleh Solim, tersimpan pula kisah pilu mengapa ayah Baheram meninggalkan mereka. Sejak dulu, Solim yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi duri dalam daging. Ia tidak hanya mencuri barang-barang berharga milik keluarga, tetapi juga selalu melukai hati ayah dengan cara tidak pernah menghormatinya serta menuduhkan apa yang tidak ayah lakukan. Solim memanfaatkan otoritasnya sebagai mamak untuk menguasai harta pusaka yang seharusnya secara adat di Minangkabau diturunkan pada Perempuan. Namun, mandeh tidak bisa berbuat apa-apa, serperti namanya Maibo, ia hanya mengiba saja. Keadaan ini menciptakan konflik batin yang tak tertanggungkan bagi suami Maibo harta bisa dicari, namun kehormatan dan pengkhianatan dari saudara ipar sendiri tidak bisa ia toleransi. Ayah Baheram akhirnya memilih pergi, meninggalkan istri dan anaknya demi menjaga harga diri yang telah lama diinjak-injak oleh keserakahan Solim.
Solim adalah seorang pegawai kantor di Camat, posisi yang ia dapat berkat pengorbanan luar biasa dari pihak keluarga Baheram. Dahulu, demi membiayai pendidikannya hingga ia bisa meraih kedudukan itu, tak terhitung berapa banyak kerbau nenek Baheram yang terpaksa dijual atau habis. Sayangnya, posisi dan kehormatan itu tak membuatnya ingat budi. Bukannya memanfaatkan ilmu yang telah didapatinya untuk membantu kemenakannya atau mengangkat martabat keluarga, Solim malah asyik dengan hidupnya sendiri, sibuk memperbanyak istri di luar sana, menghabiskan gaji dan waktu, dan sepenuhnya lupa pada tanggung jawabnya sebagai mamak yang seharusnya menjadi tiang pelindung. Pangkat yang diperolehnya dengan darah dan air mata keluarga kini hanya menjadi tameng keserakahan dan pengkhianatan, mempertebal rasa muak dan kekecewaan di hati Baheram.
Baheram tidak mengacuhkan lagi keberadaan Solim. Semenjak ia mengerti bahwa hidupnya menjadi seperti ini karena ulah Mamaknya itu. Biasanya Baheram selalu bergegas mencium tangan dan membuatkan secangkir kopi, namun sekarang melihat wajahnya saja Baheram sudah geram. Ia bukan lagi anak kecil seperti dulu, usianya sudah Sembilan belas tahun sekarang. Tiba-tiba, suara Maibo yang biasanya lembut terdengar tajam, memecah kesunyian malam. Ia meletakkan cangkir kopi dengan bunyi keras di meja.
“Uda! Bisa dijelaskan apa maksud surat gadai ini? Kenapa harga yang engkau tulis di sini berkurang separuh dari harga pasar?!” Solim menjatuhkan pisau rautnya. Matanya membulat panik, melihat Maibo memegang secarik kertas kumal itu.
“Maibo, tidak perlu kau teriaki aku. Itu surat lama. Harga barang kan berubah-ubah. Keris itu kan sudah usang, nilainya tak seperti dulu lagi,” jawab Solim dengan nada tak kalah kerasnya.
Baheram, yang sejak tadi diam dan hanya menguping, beranjak dari ambang pintu. Matanya menatap Solim dengan nyala api kekecewaan.
“Ternyata dugaanku benar, orang jahat inilah yang mengambilnya. Usang, Mamak bilang? Keris itu pusaka Ayahku! Nilainya bukan hanya karena emasnya, tapi karena tuanya!” Baheram mengatakan itu dengan mata yang menyala.
“Diam kau, Baheram! Jangan lancang mencampuri urusan mamak! Saya yang tahu urusan rumah ini. Saya sudah berkorban, saya carikan jalan supaya keluarga ini tetap makan. Hutang kita banyak!”
“Jangan jadikan hutang sebagai alasan, Uda! Hutang itupun karena Uda. Uda sengaja menaruh harga rendah agar orang lain mudah membelinya! Agar dapat untung dari sisa uang gadai itu tanpa perlu menebusnya kembali! Aku tahu niatmu! Engkau jual masa depan Baheram demi anakmu sendiri!” Maibo berkata panjang lebar.
“Jadi Mamak bukan hanya menggadaikan. Mamak menjualnya diam-diam, padahal harga yang Mamak dapat jauh lebih rendah dari nilai pusaka itu. Mamak ambil hak Ayah, Mamak ambil hak saya, dan sekarang Mamak ambil tanah yang tersisa! Mamak bukan pelindung, Mamak hanya perampok berkedok mamak!” Baheram tak kuasa menahan tangisnya.
Solim tak lagi bisa membantah. Ia membuang bambu yang dirautnya ke lantai, wajahnya memerah karena tertangkap basah dan dihantam tuduhan yang memang benar. Malam itu, bukan hanya harta yang hilang, tetapi juga ikatan keluarga yang terkoyak hingga ke akar.
Bagi Baheram, kehancuran ini adalah pengulangan dari luka lama yang sudah mengeras. Jauh sebelum Solim menggadaikan sawah, Baheram pernah menggantungkan mimpinya di rumah megah Mamaknya itu. Saat ia duduk di bangku SMP, Maibo terpaksa mengirim Baheram untuk tinggal di sana karena satu-satunya sekolah lanjutan yang layak hanya berada dekat dengan rumah Solim. Namun, bukannya mendapatkan perlindungan dari seorang mamak, Baheram justru diubah menjadi pelayan tanpa gaji.
Anak-anak Solim yang kini salah satunya kuliah di fakultas Hukum berkat sawah milik Baheram, memperlakukan Baheram seperti pembantu rendahan. Mereka tahu Baheram datang dari keluarga yang kini tak punya uang, dan status sebagai keponakan seolah tak berarti. Pekerjaan yang bukan tugasnya harus ia kerjakan setiap hari seperti mencuci tumpukan pakaian kotor seluruh keluarga, memasak untuk tujuh orang, menyapu pekarangan yang luas, hingga mencuci motor Solim yang mengkilap. Terkadang, ia harus melakukan semua itu sebelum Subuh agar tidak terlambat berangkat ke sekolah.
Perlakuan jahat anak-anak Solim lebih menyakitkan daripada pekerjaan fisik. Mereka sering menyembunyikan buku pelajarannya, mencoret seragamnya, bahkan menuduhnya mencuri uang receh hanya untuk melihatnya dihukum. Baheram yang cerdas, yang seharusnya menikmati masa belajarnya, justru pulang sekolah dengan punggung pegal dan air mata tersembunyi.
Puncaknya terjadi pada suatu sore ketika salah satu anak Solim sengaja menumpahkan kopi panas ke tugas sekolahnya dan menuduh Baheramlah yang telah melakukannya. Setelah dimarahi habis-habisan oleh Solim tanpa diberi kesempatan membela diri, Baheram menyadari satu hal rumah ini bukan tempatnya. Ia tak sanggup lagi menahan perlakuan kejam itu, dan yang paling menyedihkan, Maibo tak berdaya melawan kakaknya. Dengan hati hancur dan impian sekolahnya terkubur, Baheram akhirnya mengambil keputusan pahit. Ia berhenti sekolah, kembali ke rumah gadang.
Keesokan harinya, Solim kembali datang ke rumah gadang seperti tak pernah terjadi apa-apa semalam. Ia datang dengan maksud untuk menjodohkan Baheram, kemenakan satu-satunya itu dengan Sobirin yang baru saja menduda tiga bulan belakangan ini. Kedatangan Solim tentu saja disambut dengan tidak mengenakkan oleh Baheram dan Maibo.
Dengan tidak tau malunya Solim menyampaikan keinginannya itu. Tentu saja yang ia dapat adalah kemarahan dari Baheram. Setelah berdebat cukup lama barulah Solim mengakui bahwa Baheram ia jadikan jaminan untuk hutangnya pada Sobirin yang ternyata jumlahnya sangat mengejutkan. Baheram semakin membenci mamaknya itu, selain harta pusaka dan keris peninggalan ayah satu-satunya yang Solim gadai atau dijual, ternyata dirinya telah digadai pula pada lelaki tua bangka yang sekarang berstatus sebagai duda itu.
Di Ruang tamu rumah gadang. Solim duduk di kursi rotan sambil menyeruput kopi, sementara Baheram berdiri tegang di depannya.
“Mak, maaf, tapi Baheram sudah putuskan. Saya tidak bisa menikah dengan Pak Sobirin.”
“Apa? Bicara apa kau, Heh? Tidak bisa bagaimana? Semua sudah diatur. Keluarga Pak Sobirin sudah setuju. Kau mau membuat malu Mamak di depan banyak orang?” Tanya Solim dengan nada marah
“Bukan begitu, Mak. Baheram… Baheram tidak cinta. Dia terlalu tua, Mak. Umurnya saja Judah lebih tua daripada Mamak. Lagi pula bukan aku yang memiliki hutang padanya. Mengapa tidak anak-anak gadis Mamak yang cantik-cantik itu saja yang dinikahkan dengan dia?”
“Cinta? Cinta tidak bisa membuatmu kenyang, Baheram! Sobirin itu kaya! Dia bisa memberimu kehidupan layak. Kau dan ibumu tidak akan lagi menumpang di sini, tidak akan lagi merepotkan Mamak. Lagi pula tidak mungkin anakku aku berikan pada Sobirin itu,” jawabnya dengan tersenyum sinis.
“Baheram tahu, Mak. Baheram berterima kasih dulu sudah diizinkan tinggal di sini. Tapi sampai mati pun aku enggan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Apalagi jika sebagai tebusan hutang yang aku sendiri tidak pernah merasa mencicipi uangnya. Merepotkan Mamak? Apa tidak salah, kapan kami pernah merepotkan Mamak?”
“Kau pikir hidup itu semudah membalik telapak tangan?! Kau sudah lupa? Siapa yang menampung kau dulu? Siapa yang memberimu makan, menyekolahkanmu, membiarkanmu tinggal di rumahku?” Bentak Solim sambil meletakkan cangkir kopinya.
“Heh, Binatang! Kau pikir aku tidak tau? Aku tau persis kau menggadai dan menjual tanah dan sawah-sawah yang seharusnya milik Ibuku. Kau paksa Ibuku setuju dengan alasan untuk sekolahku kan? Kau memang lebih tua dari pada kami, tapi otakmu yang kecil itu tak berfungsi. Atau jangan-jangan sudah pindah ke lutut ya?” Baheram sudah seperti orang gila karena ulah mamaknya. Ia sudah tidak tahan lagi sehingga bisa berkata kasar seperti itu.
“Kurang ajar kau anak setan! Solim maju selangkah lalu menampar pipi Baheram dengan kuat hingga darah segar mengalir dari hidungnya.
“Tidak ada waktu lagi! Besok lusa Sobirin datang ,Sekarang kau putuskan Kau menikah dengan dia dan hidupmu makmur, atau kau angkat kaki dari sini dan lihat bagaimana kau bisa bertahan hidup sendiri bersama ibumu, pikirkan baik-baik!” Ancam Solim.
Baru saja Solim melangkahkan kakinya keluar pintu, lima orang berseragam polisi datang mengepungnya. Lalu datang satu orang lagi dari kejauhan dan menembakkan peluru tepat di betis Solim. Ternyata Solim sudah diincar oleh intel selama ini karena mencuri keris emas yang telah dijualnya. Maibo yang baru kembali dari pasar, tercengang menyaksikan apa yang terjadi di depan rumahnya. Maibo dan Baheram membiarkan Solim dengan kaki yang berdarah dibawa oleh aparat.
Setelah beberapa tahun terdengar kabar burung bahwa Solim diceraikan oleh istri-istrinya dan Solim telah meninggal di penjara karena penyakit kolera. Ia sempat menderita sebelum ajal menjemputnya. Mungkin itu adalah balasan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Baheram kini telah sukses dengan usaha rumah makannya yang dulu ia rintis dengan berbagai rintangan. Hingga kini dapat menebus satu persatu harta pusaka yang dulu pernah digadai oleh mamaknya. Baheram hidup bahagia dengan Maibo mandehnya.
BIODATA PENULIS

Noor Alifah lahir pada 3 November 2006 di Talawi, Kota Sawahlunto. Seorang mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Berkegiatan di Labor Penulisan Kreatif (LPK) Unand.





Leave a Reply