LPK—Motor berhenti di depan Surau Baru Pauh. Dari namanya, banyak yang dibayangkan bangunannya baru. Namun, kenyataannya, surau itu masih berupa bangunan lama berlantai papan, persis seperti yang dijelaskan dosen tentang surau. Begitu masuk, suasananya terasa seperti rumah, ada beberapa perabotan, dapur di bagian belakang, bahkan terlihat seseorang sedang beristirahat.

Di area mihrab, tampak sebuah lemari kecil yang di atasnya terdapat tumpukan kertas yang sudah menguning, seperti naskah. Lalu bagian atas dari tumpukan kertas itu, ada sebuah benda yang dibaluti kain putih, yang langsung diyakini bahwa itu adalah manuskripnya. Garim tua itu mengambilnya dengan gerakan pelan penuh hati-hati, meletakkannya di lantai, saat dibuka bau khas kertas tua segera menyeruak, langsung tampak tulisan-tulisan dari kertas itu.

Surau sejak lama dikenal bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan aktivitas sosial di Minangkabau. Dahulu, surau menjadi ruang belajar bagi generasi muda, mulai dari ajaran agama, adat, silat, hingga nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Namun, seiring pergantian zaman, fungsi surau lebih banyak bergeser hanya sebagai tempat ibadah semata, sementara perannya sebagai pusat pendidikan tradisional semakin jarang ditemui.

Di beberapa surau, masih tersimpan naskah-naskah lama yang menjadi saksi sejarah perjalanan pengetahuan. Naskah-naskah tersebut memuat ajaran agama, petuah adat, hingga catatan kehidupan sehari-hari masyarakat pada masanya. Keberadaannya tidak hanya bernilai religius, tetapi juga kultural dan historis, karena merekam jejak pemikiran serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sepuluh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia berkunjung ke Surau Baru Pauh untuk melihat langsung koleksi naskah kuno. Tanpa didampingi dosen, mereka berangkat bersama berbekal rasa ingin tahu. Penjaga surau menyambut dengan ramah, meski ia mengaku tidak memahami isi naskah yang dijaganya. Baginya, tugas utama hanyalah memastikan naskah tetap aman.

Di dalam surau, mahasiswa diajak mendekati lemari kecil di area mihrab, tempat naskah kuno dibalut kain putih tersimpan, dengan tumpukan kertas menguning di bagian bawahnya. Mahasiswa tampak antusias, ada yang mengajukan pertanyaan, ada yang menyimak sambil sesekali bertanya, dan ada pula yang sibuk mendokumentasikan, termasuk merekam suasana kunjungan. Penjaga surau dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan, meskipun ia mengaku tidak mengetahui isi naskah yang dijaganya. Baginya, tugas utama hanyalah merawat dan memastikan naskah tetap aman di tempatnya.

Pengamatan sederhana membuahkan temuan menarik. Tulisan Arab-Melayu masih terlihat jelas, beberapa bagian menggunakan tinta merah untuk penegasan, dan kertas mulai menguning tanda usia. Bahkan, ketika disorot dengan senter, muncul bayangan menyerupai lebah di balik lembaran. Dari penelusuran ringan sepulang kunjungan, diketahui bahwa naskah berisi mukadimah berupa puji-pujian kepada Allah dan Rasul, serta penjelasan mengenai tata cara ziarah kubur bagi laki-laki maupun perempuan. Nilai sastra tampak dari penggunaan tinta berbeda yang memperindah sekaligus menegaskan bagian penting.

Kritik teks menjadi kunci dalam menghidupkan kembali naskah seperti ini. Melalui metode tersebut, naskah yang rapuh dapat diteliti, dibaca ulang, dan dipahami isinya. Bagi mahasiswa, mengenal kritik teks berarti melihat naskah bukan sekadar benda tua, melainkan warisan budaya yang harus dijaga.

Namun, menjaga naskah tua bukanlah hal mudah. Meski tulisannya masih cukup jelas, kertas sudah menguning dimakan usia, sebagian tinta mulai memudar, dan penyimpanannya hanya dibalut kain putih lalu diletakkan di atas lemari kayu sederhana tanpa perlindungan khusus. Minimnya perhatian dan pengetahuan penjaga surau membuat risiko kerusakan semakin besar.

Kunjungan ke Surau Baru Pauh memberikan pengalaman berharga. Mahasiswa tidak hanya melihat fisik naskah, tetapi juga menyadari betapa rentannya warisan ini tanpa perawatan yang baik dan penelitian lanjutan. Naskah tua di surau bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin jati diri bangsa yang perlu dirawat untuk masa depan.

Tentang Penulis

Delivia Nazwa Syafiariza, merupakan seorang Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending