
LPK—KELAKUAN para pegawai jawatan pada cerpen Pak Menteri Mau Datang karya A. A. Navis membuat penulis menggelengkan kepala. Pasalnya, sikap pegawai jawatan sangat berlebihan kala membuat penyambutan Pak Menteri, padahal bisa dikatakan tidak ada hal istimewa yang patut dibanggakan selain jabatan yang lebih tinggi. Kalikulah, merupakan nama tokoh yang sangat sering disebutkan dalam cerpen, amat sangat mengagung-agungkan Pak Menteri. Segala cara ia lakukan demi menyambut Pak Menteri datang pada bulan depan. Hal pertama yang Kalikulah lakukan adalah mengadakan rapat selama berminggu-minggu, hingga rencana matang terbuat. Kalikulah bahkan sampai abai dengan keadaan kesehatan rekan kerjanya, terutama Pak Pono, yang masuk rumah sakit dan meninggal.
Juist, menurut penulis sekiranya masih diambang batas waras menghadapi keadaan sambut-menyambut Pak Menteri, yang sempat berdebat dengan Kalikulah perkara acara sambutan yang berlebihan dan lebih mirip seperti negeri kerajaan dibanding negeri demokratis. Seberapa kalipun Juist melawan, ia akan tetap kalah oleh sanggahan Kalikulah, “Dan penyambutan ini bukan perintah Pak Menteri, melainkan kehendak kita yang jadi rakyat. Jadi samalah dengan kehendak rakyat”.
Sementara itu, Kepala Bagian Keuangan dan Perlengkapan sedang sibuk-sibuknya mengurus uang panitia pengurus yang tidak dibayar setimpal, memaksa pengembalian uang, tetapi sayangnya untuk membayar setengah gaji mereka sangat susah diurus. Termasuk Pak Ayub, yang bahkan bukan bagian dari panitia pengurus dan hanya meminta uang gaji, tidak diindahkan oleh pegawai jawatan, dengan dalih “Pak Menteri mau datang”. Begitulah keadaan kacau dalam kantor, Kalikulah yang semakin pusing menyiapkan segala hal seperti makan minum Pak Menteri, belum lagi dana konsumsi semakin menipis, membuat Kalikulah semakin kalut. Pak Ayub yang awalnya berharap mendapatkan uang gaji demi kebutuhan pernikahan anak bungsunya dari Kalikulah, harap undur karena dirinya malah mendapatkan semprot kemarahan.
Puncaknya berada kala rapat para pegawai jawatan dilaksanakan lagi. Kali ini lebih serius. Sangat serius sehingga Pak Ayub yang pingsan terabaikan oleh pegawai jawatan tersebut. Dibiarkan pula letih, lesu, dan lapar sendiri. Pak Ayub sendiri ingin meminta tolongpun menjadi segan karena takut kena marah. Namun, berita telegram naas datang di dalam kantor tersebut, “Pak Menteri tak jadi datang. Kabinet terancam jatuh”.
Dalam cerpen Pak Menteri Mau Datang, penulis menangkap maksud Pak Menteri, Kalikulah, dan yang berada dalam kantor merupakan bentuk dari pemerintah dan Pak Ayub serta jajaran panitia pengurus merupakan rakyat. Sebagai simbol perwakilan, Kalikulah dan sekawan digambarkan terlalu berlebihan, menghamburkan uang hingga lupa uang-uang tersebut juga harus dibayarkan kepada Pak Ayub dan panitia pengurus yang sudah menunggu gaji turun. Bahkan ketika Pak Menteri tak jadi datang dan kabinet gagal, dana gaji tetap tidak turun. Hal tersebut membuktikkan tidak kompetennya pagawai kantoran dalam memimpin dan menginkar janji yang telah disepekati sebelumnya. Sikap acuh tak acuh dan pandai menjilat sangat terlihat setiap dialog “Pak Menteri mau datang” diucapkan oleh pegawai jawatan.





Leave a Reply