Salah satu adegan garapan teater “Tuanku Yayai.” Foto: LPK/Queendi Kumala

LPK—MENGHIBUR! Satu kata yang sangat mewakilkan pikiran penulis tatkala menonton pertunjukan teater “Tuanku Yayai”. Pertunjukan teater yang disutradarakan oleh Aliyah Aisyah R., beserta dua asisten sutradaranya yaitu Nada Aura Syakilla dan Siti Fahdiyan U. P. pada malam Rabu tanggal 08 Juli 2025 dalam acara Festival Nasional Wisran Hadi II tersebut sukses membuat gelak tawa para penonton dikarenakan akting pemain yang terlihat asli dan tidak dibuat-buat. Jajaran pemain teater “Tuanku Yayai”, antara lain: Aliya Aisyah; Nada Aura Syakilla; Siti Fahdiyan U. P.; Siti Nur Azhari; Nahdatul Rahma Putri; Natasya Yuli Putri; Rehan Isya Ramadan; Rivana Dwi Puti; Indriani Nurahman; dan Hasbi Witir, tentunya semakin membuat garapan ini meriah akan tingkah mereka yang lucu di atas panggung Medan Nan Balinduang. Garapan teater “Tuanku Yayai” dibuka dengan pencahayaan putih remang-remang, memperlihatkan si karakter utama Tuan Yayai (Rehan Isya Ramadan) yang sedang tidur bersandar pada tanaman hias yang serupa kamboja yang dimasukan ke dalam pot berukuran lumayan besar. Kemudian pada tengah panggung, tersusun rapi rombongan penggali tertidur. Sementara itu, di ujung panggung sebelah kanan diberi pencahayaan merah mudah, menampilkan dua orang karakter Gadis (Natasya Yuli Putri) dan Pemuda (Hasbi Witir) yang terduduk sambil berbicara satu sama lain tanpa penonton tau tentang apa pembicaraan mereka.

Adegan berlanjut saat Tuan Yayai mengigau “kunci… kunci!” beberapa kali hingga membuat para penggali terbangun seraya mengetuk-ngetuk lantai semen MNB menggunakan ujung cangkul yang mereka bawa kala tidur. Tidak jauh berbeda dari adegan sebelumnya, garapan teater “Tuanku Yayai” memang menyorot Tuan Yayai yang sibuk mencari sebuah kunci, dengan latar tempat di sebuah kuburan. Menurut Tuan Yayai, kunci tersebut amat sangat penting baginya, hingga semua penggali ia paksa menggali kuburan yang ada. Tak terkecuali salah satu lubang yang dijaga oleh Gadis dan Pemuda. Dari sanalah konflik teater ini bermula, di mana para penggali selalu ketakutan melihat isi dari lubang tersebut. Dan pada akhir garapan, terungkap bahwa isi lubang tersebut adalah cermin yang memantulkan bayangan dari para penggali yang sudah tua keriput dan buruk rupa. Hal yang membuat penulis terkesan akan garapan “Tuanku Yayai” ialah pengembangan karakter dari para penggali, yang penulis kira awalnya hanya akan seperti itu-itu saja. Maksud penulis, biasanya seorang karakter sampingan (apalagi berjumlah banyak) akan terlihat monoton. Namun, sang sutradara, Aliya, berhasil membangun karakter unik setiap penggali, walaupun memiliki kesamaan dalam berekspresi. Dialog yang diucapkan terdengar seperti omelan ibu-ibu tetangga, ditambah tingkah gestur kocak pemain semakin membuatnya tampak asli tanpa paksaan. Tidak lupa rintihan tangis seorang Isteri (Nahdatul Rahma Putri) pada babak keempat, ketika Tuan Yayai mengeluh belum menjumpai kunci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending