

Sumber media: Divisi Pubdok FSTI 2026
LPK – Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas – Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Angkatan 2024 mengelar Festival dan Seminar Teater Indonesia (FSTI). Dalam kegiatan bekerja sama dengan UKMF Teater Langkah yang diselenggarakan pada 1- 4 Juli 2026. Kegiatan ini dibuka dan diresmikan oleh Wakil Dekan II, Bapak Zuprianto, S.S., M.A., Ph.D. di Ruang Seminar Lantai 2, Fakultas Ilmu Budaya. Kilas Lakon Perempuan merupakan tema yang diusung pada kegiatan ini, diikuti dengan kegiatan seminar akademik dan delapan penampilan naskah drama yang mengangkat realitas kehidupan perempuan.
Putri Aksani menyebutkan tema Kilas Lakon Perempuan dipilih sebagai refleksi pengalaman perempuan yang kerap hadir sebagai kilasan dalam kehidupan sosial. Kata kilas dimaknai sebagai sekilas atau kilasan yang berarti pandangan cepat, sorotan tajam, atau pecahan momen yang terekam seketika. Sementara itu, kata lakon merujuk untuk meninggalkan kesan mendalam dan menyampaikan suara perempuan yang jarang didengar dan dibungkam. Oleh karena itu, yang ingin disampaikan tersebut diimplementasikan dalam bentuk peran, cerita, dialog, atau perjalanan hidup yang dimainkan di atas panggung. Dalam hal ini, perempuan sebagai lambang untuk menggambarkan kepekaan, kekuatan, dan kompleksitas emosi.
Rangkaian kegiatan diawali pada Rabu (1/7/26) dengan seminar yang menghadirkan empat orang pemateri, yakni Dr. Syafril, M. Si., Dr. Sulaiman Juned, Dr. Sahrul, M. Si., dan Andina Meutia Hawa, M. Hum. Kegiatan berlangsung khidmat dengan membahas aspek teater hingga bagaimana perempuan sebagai representasi dalam seni pertunjukan. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan mahasiswa, dosen, serta pegiat teater sebagai peserta seminar.
Kegiatan dilanjutkan dengan pementasan dua naskah pembuka pada malam pertama Rabu yaitu Nurani dan Tempat Pelepasan Suara (TPS). Kedua naskah menghadirkan persoalan moral, kebebasan, dan kemanusiaan. Pada hari kedua, penonton disuguhkan pada pementasan naskah Nyonya-Nyonya dan Empat Perempuan di Panti Jompo yang berhasil menyetuh hati penonton. Kedua lakon tersebut menyuguhkan persoalan perempuan dari sudut pandag yang berbeda, mulai dari kehidupan rumah tangga, relasi sosial, kehidupan perempuan di masa tua, hingga kesepian dan penghormatann terhadap perempuan usia tua.
Pada hari ketiga, menghadirkan naskah yang berkaitan dengan eksploitasi kebudayaan, kritik terhadap rekonstruksi sosial, trauma, serta berbagai bentuk tekanan yang masih dialami perempuan melalui naskah Kuburan Siti Nurbaya dan Ketakutan. Sedangkan, di malam terakhir giliran ditampilkan pementasan naskah drama Koma dan Aborsi. Kedua naskah ini menampilkan bagaimana pilihan hidup, isu kemanusiaan, tindakan ilegal penghapusan nyawa manusia, serta persoalan etika. Selaras dengan itu, kegiatan ini bertujuan untuk membuka pandangan kaum patrialis terhadap kaum perempuan, ucap Maryatul.
Pementasan teater ini adalah proses kreatif mahasiswa yang telah dipersiapkan kurang lebih 4 bulan sebagai bagian dari pembelajaran secara teoritis, kemudian dipraktikan dalam kilas lakon. Dengan demikian, kegiatan ini bertujuan untuk menjadi wadah dan ruang untuk meyuarakan suara perempuan yang tidak pernah diperhatikan. Melalui penyelenggaraa kegiatan Festival dan Seminar Teater Indonesia (FSTI) mampu membentuk kepedulian terhadap berbagai isu kemanusiaan, khususnya feminism yag berkaitan dengan kehidupan perempuan.


Leave a Reply