
Sumber media: Media Kreatif Unand LPK
LPK – Himpunan Sastra Indonesia (HMJ) Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas menggelar kegiatan Panggung Puisi 2026 yang bertema “Panggung yang Bersuara” pada (16/5/2026). Kegiatan ini berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dengan beberapa rangkaian acara berupa seminar dan pementasan teater. Tema “Panggung yang Bersuara” digagas dari isu bencana yang terjadi beberapa bulan lalu dengan subtema psikologis, ekonomi, lingkungan dan kriminalitas. Selain itu, panggung yang bersuara dipilih sebagai tema panggung puisi 2026 berkenaan dengan berbagai persoalan dan bencana alam yang terjadi di masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, M. Hum. “Puisi itu unik, tidak sederhana, dan tidak berisik”, ujarnya. Lebih lanjut, ia meyampaikan “Dengan respon yang tidak sederhana, membuat sesuatu lebih bermakna itulah yang disebut Panggung Puisi,” Selaras dengan hal tersebut, ketua panggung puisi 2026 mengatakan, “Tema panggung puisi tahun ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Sumatera Barat yang pernah mengalami bencana tersebut beberapa tahun lalu”, jelasnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan sebelum tema tersebut di pilih, telah dilakukan observasi langsung di lokasi bencana untuk memperkuat subesensi tema tersebut.
Turut hadir memberikan kata sambutan Dr. Zurmailis, M. Hum selaku Pembina HMJ Sastra Indonesia, Dr. Ria Febrina, S.S., M. Hum. Selaku Manajer FIB UNAND mewakili Ketua Jurusan Sastra Indonesia kepada peserta dan panitia kegiatan Panggung Puisi 2026. Rangkaian acara pagi hari diawali dengan seminar yang menghadirkan dua pemateri, yaitu Muhaimin Nur Rizqi, S. Hum dan Muhammad Fadli, S. Hum., M. Si. Seminar berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang diikuti oleh mahasiswa Sastra Indonesia Angkatan 2025 sekaligus sebagai peserta pementasan teater.
Kegiatan dilanjutkan pada malam puncak dengan penampilkan dramatisasi puisi dari sepuluh kelompok teater mahasiswa Sastra Indonesia 2025, diantaranya kelompok Panggilan Darurat, Petatah, Kelaparan Peluk Ibu, Aku (Tidak) Cemburu, Beban Jaring, Pulanglah, Dari Saripati Tanah, Si Bisu, Ayam Goreng, dan Paradigma Sosial. Pementasan tersebut merupakan alih wahana dari puisi-puisi karya mahasiswa aktif Sastra Indonesia yang kemudian dikemas menjadi pementasan teater. Sutradara memiliki tantangan tersendiri dalam mengalih wahana sebuah puisi menjadi naskah teater yang siap untuk dipentaskan.
“Mengulik puisinya menjadi naskah dengan tema yang ditentukan sama panitia, yaitu tentang kehidupan atau dampak pasca bencana banjir di Sumatera waktu lalu, akan tetapi lebih luas memaknai puisi tersebut dengan melihat hal-hal kecil sekitar yang bisa dijadikan alur cerita,” jelas Aldi.
Setiap kelompok menampilkan pertunjukan yang merupakan hasil interpretasi berbeda-beda sesuai subtema yang ditentukan, yaitu psikologi, lingkungan, kriminalitas, dan ekonomi. Selain itu, Ghina sebagai sutradara kelompok Paradigma Sosial menyampaikan, “Jawabannya ada di kreatifitas dan imajinasi, layaknya seperti uang koin yang memiliki dua sisi,” ujarnya.
Antusias penonton terlihat sepanjang pementasan berlangsung. Dengan adanya panggung puisi 2026, HMJ Sastra Indonesia berharap kegiatan ini bisa menjadi ruang berekpresi sekaligus apresiasi sastra bagi mahasiswa untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, Panggung Puisi 2026 bertujuan untuk menyuarakan keresahan masyarakat yang terdampak, tidak hanya pra, namun juga ketika dan pasca bencana.


Leave a Reply